Bus Ijo dan Surabaya
"Nikmati ae, suatu saat pasti bakal kangen masa-masa saiki" tutur mbak melalui pesan singkat enam tahun lalu. Ketika itu, aku sendiripun masih belum mengerti sepenuhnya. Hanya bisa berkaca-kaca membayangkan suasana rumah dan wajah ibuk. Lalu kualihkan pandanganku ke luar jendela bus, dengan kedua tangan merangkul tas. Berusaha menenangkan diri dengan m enyebut nama-Nya. Berusaha meyakinkan diri bahwa apa yang sedang aku jalani saat itu adalah bagian dari takdir Allah yang baik. Berharap semua akan baik-baik saja.. Dan iya, mbak benar, rasa rindu itu mulai terasa sesak setelah beberapa tahun kemudian, setelah tak lagi tinggal di kota itu. Tak lagi mendengar " s elamat pagi, selamat siang, mohon izin lewat, mohon izin bertanya ". Tak lagi mendengar panggilan " memey ". Tak lagi bertemu mbak-mbak penjual penyetan yang sudah hafal pesananku, " nasinya tambah seribu, ya :) " Ah Surabaya, meski belum banyak tempat kukunjungi, tapi ia berhasil merebut...