Bus Ijo dan Surabaya


"Nikmati ae, suatu saat pasti bakal kangen masa-masa saiki" tutur mbak melalui pesan singkat enam tahun lalu.

Ketika itu, aku sendiripun masih belum mengerti sepenuhnya. Hanya bisa berkaca-kaca membayangkan suasana rumah dan wajah ibuk. Lalu kualihkan pandanganku ke luar jendela bus, dengan kedua tangan merangkul tas. Berusaha menenangkan diri dengan menyebut nama-Nya. Berusaha meyakinkan diri bahwa apa yang sedang aku jalani saat itu adalah bagian dari takdir Allah yang baik. Berharap semua akan baik-baik saja..

Dan iya, mbak benar, rasa rindu itu mulai terasa sesak setelah beberapa tahun kemudian, setelah tak lagi tinggal di kota itu. Tak lagi mendengar "selamat pagi, selamat siang, mohon izin lewat, mohon izin bertanya". Tak lagi mendengar panggilan "memey". Tak lagi bertemu mbak-mbak penjual penyetan yang sudah hafal pesananku, "nasinya tambah seribu, ya :)"

Ah Surabaya, meski belum banyak tempat kukunjungi, tapi ia berhasil merebut tempat di hatiku. Langitnya yang cantik, orang-orangnya yang ramah, tak akan tergantikan. Tiga tahun berlalu begitu cepat. Masih banyak momen tawa dan tangis yang ingin kulalui bersama mereka. 

Nyatanya, tak ada yang benar-benar menetap dalam kehidupan ini. Semua berjalan sesuai ketetapan-Nya. Dan, aku harus tetap menjalani kehidupanku yang sekarang. Life is still going on..

Meski demikian, Surabaya beserta orang-orangnya, akan menjadi topik terindah yang selalu ingin kuceritakan. Akan menjadi halaman menarik yang selalu ingin kubaca, lagi, lagi, dan lagi, dalam buku kehidupanku.

:)


Komentar